Tampilkan postingan dengan label Social-Culture. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Social-Culture. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Oktober 2025

Mengapa situs sejarah malah terkesan angker ?

Di Indonesia banyak sekali situs-situs sejarah yang dapat dikunjungi baik berbayar maupun gratis, namun sayangnya generasi muda saat ini jarang sekali terlihat mengunjungi situs-situs tersebut. Alasan yang mereka layangkan bermacam-macam, salah satunya mereka menyebut situs sejarah angker.

Mengapa mereka bisa menyebutnya angker ?

Dalam masyarakat kita sudah tidak asing lagi bahwa sesuatu yang kuno sering dikeramatkan dan disinyalir terdapat makhluk tak kasat mata. Terlebih seringkali para sesepuh-sesepuh kita menceritakan legenda-legenda tempat keramat disekitar kita. Ya mungkin dari itulah banyak generasi muda yang enggan mengunjungi situs sejarah. Selain dari dogma sesepuh, saya juga merasa ada faktor lain yang melatarbelakanginya. Sejarah di zaman ini sudah dianggap tidak penting dan dianggap kuno. 

Sejarah saat ini memang tak begitu dilirik oleh generasi muda, mereka menganggap sudah tidak perlu lagi belajar sejarah karena kita sudah di era modern. Sebenarnya walau bagaimanapun sejarah itu penting karena kita sendiri adalah bagian dari sejarah itu sendiri.
Kembali ke permasalahan awal, mengapa situs sejarah malah terkesan angker bagi masyarakat kita saat ini, saya sendiri merasa bahwa situs sejarah memang sudah disalahgunakan oleh oknum-oknum, ya merekalah yang mencari jimat, pesugihan, ilmu hitam, dan lain sebagainya akan mengunjungi situs-situs sejarah dan seringkali mereka meninggalkan sesajen di tempat itu sebagai bentuk pemberian mereka kepada sesepuh. Tentunya hal ini dinilai negatif oleh sebagian besar masyarakat, terlebih lagi situs sejarah seringkali menyajikan nuansa yang mengerikan dengan tumbuhnya pohon-pohon besar terutama beringin di sekitar situs sejarah tersebut. Tidak terawat lah bahasa halusnya untuk menggambarkan situs sejarah saat ini. Memang tidak semua situs sejarah terbengkalai, situs sejarah yang sudah tercatat dan dijadikan sebagai cagar budaya, sudah sedikit terawat namun sayangnya tidak semua cagar budaya terawat, ada yang dinamakan cagar budaya namun keadaannya sangat memprihatinkan dan minim sekali pamflet ataupun diorama-diorama yang disajikan. Pengunjung tentunya akan bosan jika mengunjungi situs sejarah hanya melihat makam, pohon, arca-arca, dan sebagainya.

 Pengunjung tentunya ingin mengetahui sejarah yang pernah ada di sana. Pemerintah memang seharusnya lebih serius dalam hal menarik minat masyarakat untuk mengunjungi situs-situs sejarah. Bisa dengan membangun patung ataupun diorama-diorama yang menggambarkan dengan jelas peristiwa ataupun tragedi yang pernah terjadi, namun jangan hanya dibuat secara konvensional saja, harus ada sisi modern dengan memberikan spot-spot yang instagramable namun jangan sampai spot-spot tersebut malah mengurangi kesan terhadap situs sejarah itu sendiri. 

Sulit memang dan membuat bingung para pemerintah untuk menanggulangi masalah ini. Saya harap kedepannya pemerintah akan lebih fokus lagi terhadap situs-situs sejarah, baik yang sudah tercatat sebagai cagar budaya maupun yang belum tercatat.

Mengapa lampu merah diciptakan dan alasan orang Indonesia sering melanggarnya

Setiap hari pasti kita akan bertemu dengan lampu merah yang menandakan bahwa kita harus berhenti entah berhenti mengejar ataupun berhenti se...