jurnals/paramita
Volume dan Halaman : 34(1) dan 147-160
Tahun : 2024
Penulis : Arif Purnomo, Ganda Febri Kurniawan, Sereyrath Em, Ferani Mulianingsih.
Reviewer : Gandhy Dwi Syukurillah Rosiyanda
Tanggal : 26 Agustus 2024
Resume
Sejarah Indonesia merupakan sebuah rangkaian peristiwa-peristiwa yang terajut menjadi satu kesatuan cerita yang panjang, mulai dari zaman Purbakala, kerajaan, bahkan sampai masuknya agama-agama dan kedatangan bangsa Eropa. Pembahasan mengenai zaman kolonial memang tidak habis-habisnya untuk dibahas karena banyak sekali cerita-cerita unik yang selalu diingat oleh para penyintas. Kenangan masa lalu, khususnya pada masa kolonialisme Belanda, mempunyai dampak yang besar terhadap cara pengajaran sejarah di sekolah-sekolah Indonesia. Dalam konteks ini, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana ingatan anti-Belanda tercermin dalam praktik pengajaran guru sejarah di Indonesia dan sejauh mana hal ini dapat mempengaruhi pemahaman siswa tentang masa lalu mereka (Lévesque & Clark, 2018). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam: Dengan 18 guru sejarah di Semarang dan menggunakan dokumen RPP, bahan ajar, dan tugas siswa. Data dianalisis artikel menggunakan pendekatan analisis tematik.
Memori anti-Belanda sangat penting dalam memahami sejarah dan identitas masyarakat Indonesia. Pembentukan memori ini melibatkan berbagai faktor, termasuk sistem pendidikan, cerita lisan, sastra, dan media massa. Memori anti-Belanda ini dibentuk melalui pengalaman hidup individu, cerita lisan, sastra, dan media massa. Sistem pendidikan formal dan non formal memainkan peran penting dalam membentuk dan memelihara memori anti-Belanda. Memori anti-Belanda membentuk identitas nasional Indonesia dengan memperkuat semangat patriotisme dan nasionalisme. Pengajaran sejarah di Indonesia memasukkan peristiwa perlawanan terhadap kolonialisme Belanda sebagai bagian integral dari kurikulum. Guru sejarah berperan penting dalam menghubungkan ingatan anti-Belanda dengan pengetahuan tentang kebebasan.
Fakta sejarah yang paling penting adalah lamanya penjajahan Belanda di Indonesia yang berlangsung hampir tiga abad. Mitos tentang 350 tahun penjajahan Belanda seringkali menjadi narasi yang menguatkan ingatan anti-Belanda.
Penggunakan metode kualitatif dengan studi kasus, memungkinkan pemahaman yang lebih mendalam tentang memori anti-Belanda dan praktik didaktik guru sejarah.
Penelitian ini juga melibatkan guru sejarah dari berbagai latar belakang di Semarang, memberikan gambaran yang lebih komprehensif dengan mempertimbangkan berbagai faktor yang membentuk memori anti-Belanda, termasuk sistem pendidikan, cerita lisan, sastra, dan media massa. Namun sayangnya penelitian ini hanya dilakukan di Semarang, sehingga hasil penelitian mungkin tidak dapat digeneralisasikan ke seluruh Indonesia.
Penelitian ini juga hanya melibatkan 18 guru sejarah, sehingga hasil penelitian mungkin tidak mewakili semua guru sejarah di Indonesia Dan tidak membahas secara mendalam tentang dampak globalisasi dan pengaruh asing terhadap memori anti-Belanda, serta kontroversi pengelolaan narasi sejarah.
Penelitian ini memberikan wawasan yang berharga tentang kompleksitas memori anti-Belanda di Indonesia dan bagaimana hal ini memengaruhi praktik didaktik guru sejarah. Penelitian ini menunjukkan bahwa memori anti-Belanda tetap penting dalam pembentukan identitas nasional Indonesia, dan tantangan terus muncul dalam menjaga dan memperbarui memori ini dalam konteks globalisasi dan perubahan dinamika masyarakat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar